One day with Rahma Azhari
“Diamput…” umpatku dalam hati setelah membaca SMS yang baru saja masuk ke HP ku, isi SMS itu singkat saja “Sorry, aku plg bsk pagi pake last flight, tadi gak bisa hubungi karena low batt, jempu aku ya!” itu tadi isi sms Diana pacarku.
Padahal tadi aku sudah berjuang mati-matian untuk bisa sampai Bandara Juanda akibat demo warga Tanggulangin Sidoarjo yang memblokade jalan tol dan jalan raya ke Sidoarjo.Untuk ngilangin sebel dan capek, aku coba jalan2 ngeliat suasana terminal bandara Juanda yang baru ini, “Lumayan lah… gak malu-maluin” gumamku dalam hati.
Bbrrruukk….. tiba-tiba ada seseorang yang nubrukku dari arah samping kiri.
“Jancuk… matamu… kalo jalan ngeliat dong” umpatku ke orang yang nubrukku tadi…
Aku kemudian nyesal atas umpatanku tadi, ternyata yang nubruk aku seorang cewek, yang menurutku mirip wajah yang sudah cukup aku kenal, tapi entah siapa.
“Maaf… maaf pak… maaf…” ucapnya ambil berusaha memungut handbag nya yang jatuh.
Dia jongkok sambil memunguti isi handbagnya yang berantakan, karena posisi jatuhnya handbag itu dekat kakiku, maka dengan tidak sengaja ekor mataku menangkap segumpal bola daging dari balik tshirtnya yang longgar dan berleher agak rendah.
“Nggak apa-apa mbak, nggak apa-apa kok mbak… ” sambil ikut jongkok membantu memunguti barangnya yang berjatuhan.
Setelah beres semua, dia berdiri dan mengucap terima kasih sambil sekali lagi minta maaf, kembali aku mengingat-ingat siapa ya…? sepertinya aku kok kenal dengan wajahnya. Dia kemudian melanjutkan menarik trolly bagnya sambil matanya mencari-cari, mungkin mencari orang yang menjemputnya, akupun kembali melanjutkan langkah kakiku sambil melihat-lihat suasana terminal Juanda yang baru ini.
Sekitar sepuluh menit aku jalan melihat-lihat, kemudian aku memutuskan menuju lapangan parkir untuk pulang.Ditempat menunggu mobil jemputan, aku lihat gadis yang menubruk aku tadi masih berdiri menunggu jemputannya.
Aku lihat bentuk tubuhnya sangat seksi, menggunakan celana jeans stretch ketat dipadu tshirt longgar agak tipis berwarna putih, sehingga dari belakang terlihat sinar matahari menembus kausnya dan membentuk silhouet lekuk tubuhnya, seksi sekali. Rambutnya sebahu dan dicat agak kemerahan nampak melambai tertiup angin.Iseng aku coba mendekati dia sambil berusaha mengingat-ingat namanya.
“Masih belum datang mbak jemputannya….?” tanyaku ramah. Dia menoleh sebentar kemudian membereskan rambutnya yang tertiup angin, tapi kemudian dia menoleh dan menatapku.
“Ohh mas… belum nih mas… maaf ya mas tadi aku bloon sekali…. abis bingung sih, baru kali ini aku turun diterminal baru ini…” sahutnya ramah sambil menyunggingkan senyum.
Ya Tuhan…. aku jadi ingat…. wajahnya mirip sekali dengan Rahma Azhari terutama bentuk bibirnya yang sensual itu!
“Nggg belum datang jemputannya ?” aku ulang pertanyaanku tadi
“Eh iya… belum mas… mana aku nggak bisa hubungi siapa-siapa nih… Hpku low batt, sial banget..” jawabnya seraya menunjukan Hpnya
“Oh begitu… bisa pakai pake HP saya mbak…?” tawarku seakan ingin menebus dosaku yang sudah mengumpatnya tadi
“Nggak apa-apa…? nggak enak nih jadi ngerepotin..” jawabnya
“Nggak apa-apa kok, sekalian mau nebus dosa saya karena sudah mengumpat mbak tadi” ujarku seraya menyodorkan HP bututku
“Bentar ya mas… kepaksa buka notes nih, nggak hapal nomornya” jawabnya, kemudian membuka handbag nya mengambil buku kecil.
“Tolong dihubungkan nomor ini mas…” katanya sambil menyebut sederet angka nomor seluler, akupun mengiyakan saja. Setelah tersambung, aku ulurkan HP itu kearahnya
“Hallo… Ben… iya gue udah di Juanda, gile luu… gue udah ampir sejam nunggu jemputan neh… kok nggak datang2 sih…”
“Lho terus gue gimana dong? Iya hape gue low batt, jadi gak bisa nelpon, ini aja aku pinjam punya orang… gimana sih?”
“Udah deh gini aja, lu telpon itu driver, kalo dia kejebak macet suruh balik aja dia, biar gue naik taksi aja dari sini.”
Dia kemudian menutup pembicaraan, sambil mengulurkan kembali hape ku.
“Emangnya ada demo apaan sih mas? Kok katanya jalanan pada macet ?” tanyanya
“Oh itu, demo warga yang kena banjir lumpur, mereka memblokir semua jalan masuk ke Sidoarjo”
“Nggg maaf, sepertinya saya kok kenal sama mbak ya…. tapi kok agak lupa-lupa ingat…” sambungku sambil garu-garuk kepalaDia nggak menjawab, tapi cuman melirik dan tersenyum saja…. gilllaa senyumannya maut sekali
![]()
“Mas sendiri ngapain ada disini..?” tanyanya
“Aku tadi mau jemput teman, eh nggak taunya dia batal pulang hari ini tanpa ngabari aku…” gerutuku, dengan segera kepalaku menangkap peluang bagus
“Mbak gimana kalau mbak sama-sama saya aja….. itung2 dari pada aku udah capek-capek kesini tapi sia-sia…”
“Lho emangnya mas nggak kerja jam segini..?” jawabnya
“Nggak, kebetulan lagi cuti kok…” jawabku sekenanya“Oke lah, kalau aku gak merepotkan mas..” jawabnya dengan ringan
“Eh… sorry, kita belum kenalan…. kenalkan namaku Budi” kataku sambil mengulurkan tanganku
“Oohhh iya sampai lupa, aku Rahma…” jawabnya sambil menyambut uluran tanganku. Bagai disambar geledek mendengar dia menyebut namanya.
“Rahma… Rahma Azhari yang.. itu…?” ulangku dengan setengah tidak percaya
“Iya… kenapa mas..?”
“Ngg Nggakk apa-apa kok, tadiaku sudah ngira, cuman agak ragu-ragu aja, kok sendirian?”
“Yaahhh… lagi pengen pergi sendiri aja…” jawabnya ringan
“Ok…baik, mau nunggu disini atau mau sama-sama ketempat parkir?” tanyaku
“Dimana sih mobilnya?”
“Itu, diseberang….” jawabku sambil menunjuk Avanza ku“Oh deket,mending kita jalan sama2 aja kesana aja..” jawabnya sambil memberesi bawaannya dan menyeret trolly bag nya
“Biar saya bantu mbak…” ujarku sambil meraih trolly bagnya, tanpa sengaja aku menyentuh punggung telapak tangannya yang terbungkus kulit halus
“Terima kasih Budi…. please jangan panggil aku mbak dong…. rasanya aku jadi tua banget nih..” Kemudian aku dan dia berjalan bersebelahan menyeberangi jalan didepan kami, secara reflek tangan kanannya menggamit lengan kiriku, hidungku mencium wangi rambutnya yang tertiup angin
“Ok mbak.. nggg Rahma… tapi sorry lho mobilku mobil rakyat…..”
“Gak apa-apa… yang penting nggak jalan kaki kan…” jawabnya berseloroh
Begitu masuk mobil, aku setel radio SS untuk mencari informasi jalan yang bebas dari kemacetan, untung Rahma banyak ngajak ngobrol aku sambil kadang-kadang jarinya mencubit lenganku kalau ada kalimatku yang slebor, sehingga aku bisa mencairkan hatiku yang deg-deg an dari tadi karena bisa duduk berdampingan dengan Rahma Azhari yang sselama ini hanya bisa aku lihat foto-foto toplessnya di internet.
Akhirnya setelah hampir 1 jam lebih berjuang melawan kemacetan, sampailah di kawasan Darmo
“Mau kemana nih Rahma?” tanyaku
“Nggak tau nihh mau kemana…” jawabnya dengan enteng
“Lho kok…. ?? maksudku nginap di hotel apa ?” ulangku
“Aku nggak tau… temenku yang pesan… itu tadi temenku yang aku telpon. Tapi aku udah terlanjur bete… aku nggak mau diganggu lagi sama telponnya. Tolong deh carikan hotel yang bersih dan nyaman…”
“Nggg dimana ya…. gimana kalau di Majapahit Hotel saja?”
“Terserah kamu deh Budi…” jawabnya singkat To be continued

Tinggalkan Balasan